Super El Nino Mulai Agustus 2026, Ini Wilayah Paling Rawan Terdampak

Jakarta, WVCPD Indonesia

—

Fenomena

El Nino

tahun ini diprediksi bakal menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah. Sejumlah wilayah

Indonesia

berpotensi terkena dampak paling parah.

Profesor riset dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin mengatakan bahwa sejumlah pakar iklimmemprediksi bahwa pemanasan suhu akibat El Nino bisa mencapai lebih dari 2 derajat. Fenomena El Nino tahun ini diprediksi bakal lebih parah dari 2023.

“Kalau kita bicara dampak untuk kasus El Nino 2023 yang suhu maksimum intensitasnya hanya 1,6 (derajat Celsius), sekarang kedudukannya, posisinya El Nino saat ini dalam pantauan satelit itu sudah 1,74 (derajat Celsius),” kata Erma dalam wawancara dengan WVCPD Indonesia TV, Minggu (26/7).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Itu sudah melampaui ambang batas El Nino 2023, dan ini belum stop di sini, ini masih merangkak naik begitu dan diprediksi Agustus akan mencapai threshold atau ambang batas di atas 2 (derajat Celsius). Jika El Nino mencapai 2 atau lebih dari 2, maka itu disebut dengan super,” lanjut dia.

Menurut Erma, kategori El Nino super baru terjadi dua kali sepanjang sejarah, yakni pada tahun 1997 dan 2015. Namun, fenomena El Nino tahun ini diprediksi bakal lebih kuat dari dua peristiwa sebelumnya.

Bahkan, jika dibanding peristiwa tahun 2023 lalu, dampak El Nino kali ini diperkirakan bakal lebih parah. Pasalnya, intensitas El Nino tahun ini sudah melampaui tahun 2023, dengan kondisi masih bisa lebih panas lagi ke depannya.

“Sudah harus dipahami bahwa El Nino saat ini yang 2026 dampaknya akan lebih parah dibandingkan dengan El Nino 2023, karena intensitasnya saja sekarang sudah lebih tinggi daripada intensitas maksimum El Nino 2023,” ujar dia.

Wilayah mana yang paling terdampak?

Erma menjelaskan, fenomena El Nino memicu keragaman dampak, alias tidak semua wilayah mengalami dampak yang sama. Menurut dia, wilayah Indonesia yang berada di utara ekuator, seperti Aceh, Sumatra bagian barat, hingga Kalimantan bagian utara diperkirakan masih akan diguyur hujan saat fenomena ini terjadi.

Sementara itu, wilayah-wilayah yang berada di selatan ekuator bakal mengalami kekeringan parah. Bahkan, 70 persen wilayah Indonesia diperkirakan bakal terkena dampak dari El Nino, yakni cuaca yang lebih panas dan udara lebih kering.

“Kalau kita bicara mostly ya, mostly itu berarti secara statistik lebih dari 70 persen di wilayah Indonesia ini akan mengalami kondisi yang tadi cuaca menjadi lebih panas, hotter, dan dryer yaitu udara menjadi lebih kering,” jelas dia.

Lantas, daerah mana saja yang paling terdampak? Erma memprediksi daerah-daerah ini yang bakal paling terdampak fenomena El Nino:

Pulau Jawa

Bali

Nusa Tenggara Barat

Nusa Tenggara Timur

“Nah, ini yang sedikit membedakan kalau kita bicara di selatan Jawa dibagi menjadi dua hotspot, yaitu wilayah yang paling keringnya yaitu di bagian tenggara tadi sudah lebih lama mereka onset keringnya dan sekarang diikuti oleh Pulau Jawa ini dan juga Sumatera bagian selatan ya dalam hal ini Lampung dan sekitarnya,” tuturnya.

Sementara itu, wilayah seperti Kalimantan juga bisa terdampak El Nino, dengan potensi kebakaran hutan dan lahan mengancam. Menurutnya, Agustus nanti suhu diperkirakan bakal lebih panas dari sebelumnya imbas El Nino.

Sebelumnya, hasil pemantauan BMKG juga menunjukkan El Niño telah memasuki kategori kuat dengan peluang mencapai 98 persen, sehingga berpotensi menyebabkan penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di bagian selatan garis khatulistiwa selama puncak musim kemarau.

“Fenomena El Niño merupakan fenomena iklim global yang memengaruhi distribusi curah hujan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Namun perlu dipahami bahwa ElNiño dan musim kemarau adalah dua hal yang berbeda,”kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam keterangannya, Senin (29/6).

El Niño disebut akan berdampak pada sektor pertanian dan ketersediaan air. Selain itu, El Niño juga berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, penurunan kualitas udara akibat meningkatnya konsentrasi polutan, serta gangguan kesehatan masyarakat seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan penyakit akibat paparan suhu panas.

Di sektor pangan dan pertanian, BMKG mengingatkan adanya risiko gangguan fase pertumbuhan tanaman, penurunan produktivitas, hingga peningkatan potensi puso akibat defisit air.

Oleh karena itu, kesiapsiagaan dan langkah antisipatif perlu dilakukan sejak dini melalui penyesuaian pola tanam, pengelolaan irigasi yang lebih efisien, serta pemanfaatan informasi iklim sebagai dasar pengambilan keputusan di sektor pertanian.

(dmi)

Add

as a preferred

source on Google

[Gambas:Video WVCPD]

Baca lagi: Prabowo Libatkan Danantara dalam Setiap Keputusan KSSK

Baca lagi: Topan Noul Hantam China, 340 Ribu Orang Dievakuasi

Baca lagi: FOTO: Revitalisasi SDN Tanggirejo Grobogan

One Response

  1. Informasi yang sangat edukatif buat khalayak luas. Terima kasih banyak atas pencerahannya admin! Untuk tambahan data pendukung dari sumber berbeda, silakan meluncur ke https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297246878_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297193089_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297378165_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320647695_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320308789_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F296921663_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320508582_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297609348_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320068020_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320106802_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297403126_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297323427_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320615324_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320650555_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320545178_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F296940205_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297557230_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297580040_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297047085_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320341664_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320641404_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297458965_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297225596_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297231026_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320503136_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297019246_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297094277_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320668423_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F296937457_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320267301_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320718507_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297243480_htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: